Posts

Menghadirkan Pemimpin Kemanusiaan

Image
Media Indonesia, 4 Juli 2014  +David Krisna Alka    KESADARAN autentik dalam diri manusia adalah hati kemanusiaannya.  Jika lubuk hati kemanusiaan manusia sudah tumpul, keberingasan dan aum kegarangan menyeruak bak macan yang girang setelah menerkam mangsanya. Kesadaran autentik rakyat dalam Pemilihan Presiden 9 Juli 2014 ini bakal diuji.  Kesadaran untuk memilih pemimpin kemanusiaan 200 juta lebih rakyat Indonesia sudah di depan mata. Setelah hati kemanusiaan kita terombang-ambing oleh berbagai fitnah dan sumpah serapah kebinatangan bersilweran di depan mata, saatnya mengembalikan kesadaran autentik kemanusiaan kita untuk memilih pemimpin yang mampu menjaga kemanusiaan dan keberadaban bangsa Indonesia. Pemimpin yang bekerja Saat kita melihat dan merasakan musim bunga tiba, musim pergerakan alam, mengalirnya air sungai, keluarnya mata air, datang dan perginya burung-burung, usapan lembut angin di pagi hari, gelombang pergerakan angin dari satu kawasan...

Jokowi-JK Lebih Moncer di Sosial Media

Image
Muhammad Taufiqqurahman - detikinet Selasa, 10/06/2014 07:20 WIB Jakarta - Pasangan Joko Widodo dan Jusuf Kalla menuai pujian di media sosial. Penampilan pasangan ini dinilai mengungguli rivalnya, Prabowo Subianto dan Hatta Rajasa dalam acara debat capres yang diselenggarakan KPU, Senin (9/6/2014) malam. “Sungguh mengejutkan saya, pasangan Prabowo-Hatta malah menjadi follower,” kata David Krisna Alka, peneliti Populis Institute di Jakarta lewat rilis yang diterima, Selasa (10/6/2014). Karena banyak mendapat pujian di Twitter, nama Jokowi dan kata-kata yang selama ini melekat kepada pasangan Jokowi-JK menjadi trending topic di Twitter, seperti 'Presiden nomor 2', 'berani jujur adalah kita', 'Lurah Susan', 'hala Jokowi', 'pertanyaan JK', 'Bhineka Tunggal Ika” dan 'hak asasi manusia'. Melihat penampilan Jokowi-JK malam tadi, kata David, diperkirakan kelas menengah yang selama ini meragukan kemampuan Jokowi akan ber...

Kaum Muda Minim Pendidikan Politik

Image
Jumat, 30 Mei 2014, 19:27 WIB Yogi Ardhi/Republika DPD REPUBLIKA.CO.ID,  JAKARTA -- Menjelang digelarnya Pemilihan Umum Presiden (Pilpres) 9 Juli mendatang, kepekaan kaum muda dalam mengenali figur para capres dan cawapres dinilai masih kurang. Mereka cenderung masih terjebak dengan berbagai informasi tendensius yang tersebar di media-media sosial. Peneliti Maarif Institute, David Krisna Alka mengatakan, potensi pemilih muda di Indonesia terbilang besar, yakni mencapai 30 persen dari total pemilih yang ada. "Sayangnya, mereka cenderung hanya melihat di permukaan, belum membaca narasi historis kedua pasang kandidat secara utuh," ujar David dalam diskusi Perspektif yang digelar di Gedung DPD RI, Kompleks Parlemen Senayan, Jumat (30/5). Kaum muda, kata dia, mestinya melihat lebih jauh lagi seperti apa visi, misi, dan program dari masing-masing capres/cawapres tersebut ke depan. Bukan ikut terjebak oleh fenomena media sosial yang saat ini marak menyebarkan ragam i...

Melawan Kepura-puraan

Image
Media Indonesia, 3 April 2014 David Krisna Alka MUSIM kampanye pemilu legislatif tahun ini segera berlalu. Sejak 16 Maret lalu, berbagai rupa kampanye calon anggota legislatif dan partai politik hadir merayu. Sorak-sorai caleg menjanjikan sesuatu terdengar bertalu-talu. Ada juga caleg yang kampanyenya malu-malu, dan penyanyi dangdut di atas panggung kampanye bergoyang tak jemu-jemu. Bagi masyarakat yang merasakan suasana batin demokrasi hadir dan menjanjikan perubahan, mereka berpartisipasi dengan sukarela. Sebaliknya, bagi mereka yang skeptis, cukup mengamati dan membaca lalu lintas berita kampanye di berbagai media. Bagi yang datang karena dibayar, pandai-pandai mereka saja. Bagi yang muak, mereka berpaling muka. Bagi yang tak peduli, sepertinya mereka menganggap kampanye itu palsu. Nah, itulah yang mesti dilawan, kepalsuan. Belajar dari pengalaman, caleg lama atau partai politik lama terkadang lupa atau `sengaja lupa' dengan janji-janji kampanyenya. Harapannya, p...

Demokrasi Gigit Jari

Image
Harian Kompas, 14 Maret 2014 +David Krisna Alka   YANG tampak dan yang terasa dalam terang dan gelap masalah politik Indonesia hari-hari ini adalah kemunculan kata-kata puji dan caci yang hanya ditentukan lewat ujung jari tangan penekan tombol abjad. Setiap kata menjadi berita yang melintas di layar komputer, telepon pintar, atau tablet. Kenyataannya, persoalan politik menjelang Pemilu 2014 memang banyak terkait dengan ujung jari. Pemilu yang tinggal menghitung hari, para calon anggota legislatif dan calon presiden yang bersiap menghitung biaya politik untuk meraih suara pemilih, semua lewat ujung jari. Kultur politik ujung jari semakin menjadi-jadi tatkala alam sadar rakyat terbuai oleh jari-jari tangan penguasa. Ada yang sekadar melambai dengan janji-janji. Ada yang lewat ujung jarinya menebar uang membeli suara. Namun, kembali semua tanpa bukti. Ujung jari tetap bersih menari-nari.

Ketika yang Muda Berpolitik

Image
Media Indonesia, 7 Maret 2014 +David Krisna Alka   Sejatinya dalam politik tak ada istilah biarlah berjalan seperti air yang mengalir di sungai. Pasalnya, perubahan tak akan mengalir jika tak ada yang menggerakkan.  Perubahan bukan sekadar kata dan suara. Perlu ada tindakan nyata yang membuat air memancur menyirami sekitarnya sehingga menjadi tumbuh dan berubah. Pemilu tahun ini menjadi momen penting bagi generasi muda Indonesia untuk bergerak dan tumbuh dalam politik, mengubah sirkulasi politik dalam belantika politik Tanah Air. Bukan sirkulasi elite politik baru yang masih korup malah hadir. Inilah saatnya seluruh generasi politik muda Indonesia untuk unjuk peduli, unjuk bersih, dan unjuk prestasi dalam politik untuk kebaikan publik. Generasi politik hari ini mestinya berani keluar dari kurung an yang lembap dan gelap. Berani bersuara dan bergerak mengubah sistem kaderisasi partai politik yang lumut dan berkarat. Bung Hatta pernah berkata, hanya negara totalit...

Politik Semu Kelas Menengah

Image
Media Indonesia, 18 Februari 2014  +David Krisna Alka     `KELAS Menengah tidak Percaya Parpol' itulah judul salah satu berita di koran ini tahun lalu (21/3/2013). Isi berita itu memaparkan hasil survei Publica Research & Consulting yang menyebutkan mayoritas kelompok kelas menengah di Indonesia tidak memercayai partai politik (parpol). Pandangan itu diperkuat anggapan bahwa para anggota dewan lebih berperan sebagai wakil parpol daripada mewakili kepentingan rakyat. Belum lama ini harian Media Indonesia (7/2) juga memuat berita tentang kelas menengah yang mendominasi pemilih mengambang (swing voters). Berita itu menjelaskan kesimpulan hasil survei Alvara Research Center yang dilakukan sepanjang 16-30 Januari di 12 kota di Tanah Air. Survei ini menyebutkan persentase pemilih mengambang mencapai 27,1% dan mayoritas kelas menengah. Pertanyaannya, siapakah kelas menengah itu? Benarkah mereka tak percaya parpol dan bakal mendominasi swing voters dalam Pemil...

Book Review: The Future of Power by Joseph S. Nye Jr

Image
Joseph Nye’s theories on ‘soft’ and ‘smart’ power need no introduction in the field of international relations, with Nye having established himself as a leading thinker through his pioneering liberal institutional approach. In The Future of Power he attempts to address the evolving notion of  power in a new world of non-state actors and emerging economies. Iwan Morgan believes Nye is at times more thought-provoking than persuasive, but the book is full of insightful analysis that any scholar interested in world affairs will find of great interest.  The Future of Power. Joseph S. Nye Jr. Public Affairs. February 2011. 320 pp. Joseph Nye has established himself as one of the foremost thinkers on international relations, and his name is (and likely always will be) associated in particular with his meditations on the benefits and applications of power in its three incarnations: ‘hard’ – the influence obtained through the use of military and/or economic coercion; ‘soft’ – the...

Harapan Perubahan dalam Pemilu 2014

Image
R asa-rasanya kok rakyat kecil makin dijajah elite politik yang gaya hidupnya mewah luar biasa Sutan Takdir Alisjahbana (1984:64) pernah berkata, politik itu sesungguhnya memasukidan menguasai segala aspek hidup, takut akan politik berarti lari dari hidup. Namun, studi politik umumnya memiliki dua cara pandang. Pertama, yang memandang politik pada dasarnya dijalankan secara etis, santun, visioner, dan demi kemajuan serta kesejahteraan masyarakat lahir dan batin. Politik yang berlandaskan etika dan moral politik, yang mengedepankan apa yang seharusnya dilakukan sejalan dengan prinsip dasar moralitas nilai dan norma yang dijadikan kaidah kehidupan masyarakat. Kedua, yang menyatakan realitas politik adalah kancah perebutan kekuasaan, menggunakan kekuatan dan daya upaya yang tak segan-segan menggunakan cara-cara yang tidak lazim, melepaskan dirinya dari akal sehat dengan melanggar norma, nilai dan etika-moral masyarakat. Cara pandang yang kedua itu acap kali mengis...

Ruang Didik Politik Bajik

Kompas, Selasa, 10 Desember 2013 Oleh: David Krisna Alka Bangsa yang melupakan kebudayaannya adalah bangsa yang bersiap menggali kuburannya sendiri .                         — Buya Syafii Maarif Begitulah keadaan kita hari-hari ini. Perilaku politisi kita sekarang sudah kering kerontang nilai-nilai kebudayaan. Karena itu, sungguh penting membangun tonggak kebudayaan dalam kehidupan politik di Tanah Air dan mengintegrasikannya ke dalam politik. Basis-basis kultural dalam ruang politik patut diisi agar memiliki jiwa dan hati. Politik tanpa inti kebudayaan akan gagal membentuk masyarakat yang beradab dan berkeadilan. Semakin dekat Pemilu 2014, kehidupan politik di negeri ini semakin bertambah sengkarut. Apa masalahnya? Sudah sedemikian parahkah kultur politik kita? Menurut Wiratmo Soekito (1982:36), politik mengandung pengertian yang ambivalensi. ...

Negeri yang Gelisah

Media Indonesia, 3 Desember 2013 Oleh: David Krisna Alka  Bukan bersama kita bisa untuk selalu berkeluh kesah dalam republik,  tapi berusaha untuk bangkit . BAYANGKANLAH jika seorang guru atau dosen setiap meng ajar dalam kelas selalu berkeluh kesah kepada murid atau mahasiswanya. Bagaimana rasanya? Mereka merasa kesal bukan? Lebih lagi jika seorang pemimpin sebuah negara selalu berkeluh kesah terhadap rakyatnya. Apa yang rakyat rasakan? Inilah negeri keluh kesah. Keluh tentang kapan tiba saatnya negara ini menuju kebangkitan dan perubahan. Kesah tentang kinerja kepemimpinan politik yang lemah, seolah semua berjalan sendiri-sendiri. Hukum berjalan sendiri, kekerasan terus terjadi, dan korupsi semakin menjadi-jadi. Selama ini, kepemimpinan di Republik ini belum mampu menggerakkan perubahan untuk kebangkitan. Kapitalisme yang menyayat urat nadi harga diri bangsa membuat Republik ini tak mandiri. Pertanyaan lain, apakah Pemilu 2014 kita akan memiliki kepemimpinan...

Sastra dan Beban Identitas

Image
Esai Kompas, Minggu, 24 November 2013 Oleh: Gus tf Sakai Kemajuan teknologi, khususnya teknologi informasi, telah mengantarkan kita ke ruang-waktu luwes tak bersekat. Dengan satu kedipan, kita bisa berpindah atau berada di lain tempat. Dengan satu sentuhan, kita dapat berada di lain saat, seolah masa bisa mengerut dan melipat. Dalam kondisi acak-lintas dan tembus-batas seperti itu, sia-sialah usaha untuk menahan atau mengisolasi sesuatu. Maka begitulah kemudian, di zaman mutakhir ini, sesuatu dengan sesuatu lain tak bisa dipisahkan. Dan begitu pulalah seni, atau khususnya sastra, tak bisa dipisahkan untuk tak jadi bagian dari teks-teks lain di luar sastra. Sementara itu, seperti kita tahu, teks sastra punya sifat sangat berbeda—bahkan bertolak belakang—dengan teks-teks di luar sastra. Bila teks-teks di luar sastra seperti teks sosial, teks ekonomi, teks sains, teks agama bahkan teks filsafat bekerja dalam kerangka acuan ”menjadi ada”, teks sastra justru bekerja dalam keran...

Sabtu Puisi

Image
sabtu pagi ke empat kali di bulan november. ini kesekiankali melewati mimpi di malam hari menunggu pagi. sabtu pagi ke empat kali di bulan november. ini kesekianlagi menanti ujung letih sampai pagi menulis mimpi. sabtu pagi ke empat kali di bulan november. ini kesekianhari menuju tebet makan lontong padang pakai salalauak enak sekali. persada, 23-11-13

Kepemimpinan Seolah-olah

Image
Kompas, Kamis, 31 Oktober 2013 Oleh: David Krisna Alka Laku politik suap telah membelenggu institusi politik di negeri ini. Celakanya, Mahkamah Konstitusi pun ikut melakukannya. Kepemimpinan institusi politik dan institusi hukum yang terkena dampak kuman korupsi membuat kepercayaan publik menurun drastis. Di samping itu, kekuasaan kapital acap kali memayungi proses politik dengan menyelipkan kekuatan modal dalam menentukan pejabat politik atau berbagai kebijakan publik. Walhasil, kita pun sulit membedakan antara janji pejabat yang tulus dan kebohongan kebijakan yang merayu. Selain itu, pejabat publik atau pejabat politik acap kali berbicara mewakili institusi politiknya, juru bicara mewakili pimpinannya, pejabat partai mewakili ketua umumnya, atau politisi mewakili pemodalnya. Maka, apa yang mereka sampaikan tidak mewakili dirinya sendiri demi tegaknya kebaikan publik di negeri ini. Memang kekuatan sosok masih menjadi indikator penting bagi publik sehingga ban...

Pancasila, Gagasan Kebudayaan, dan Kewarasan

Media Indonesia, Kamis, 24 Oktober 2013 Oleh: David Krisna Alka  DALAM peluncuran dan diskusi buku Indonesia di Jalan Restorasi, Politik Gagasan Surya Paloh buah karya Willy Aditya di Gedung Indonesia Menggugat, Bandung, Jawa Barat, belum lama ini, penulis merasakan kegelisahan bahwa kehidupan politik di negeri ini mengalami krisis kepercayaan dan hampa gagasan, terutama gagasan kebudayaan. Berbagai kejahatan politik di alam demokrasi liberal mengiris dan menyayat jantung konstitusi Republik ini. Mencermati fakta kehidupan politik di Indonesia, apakah sudah tecermin nilai-nilai Pancasila? Ada keraguan, ketika korupsi merajalela, penyuap dan penerima `suapan politik' ada di mana-mana, dan politik transaksional secara terang benderang tampak di depan mata. Lantas, apa gunanya jantung konstitusi kita dalam kehidupan politik? Kesaktian macam apa yang dimiliki dasar negara Indonesia yang bernama Pancasila dalam kehidupan politik hari ini? Batin kita merasakan, praktik po...

Imajinasi Politik Kaum Muda

Media Indonesia, 10 September 2013 Oleh: David Krisna Alka BILA menengok perayaan ulang tahun kemerdekaan Republik ini beberapa waktu lalu, dapatlah ditengok barisan kaum muda melakukan upacara dari istana sampai di halaman balai desa. Namun, seberapa jauh ekspresi kemerdekaan kaum muda menjadi bermakna sehingga dengan gagah mampu menciptakan kreativitas kolektif menggalang perubahan corak kepemimpinan politik di Republik ini. Sepertinya, ekspresi politik kaum muda seolah bingung, ingin berjuang dari mana dan hendak ke mana. Semestinya politik dihayati generasi muda untuk berperan aktif turut mengambil bagian dalam negara. Termasuk ikut serta dalam pemilihan umum, memilih dalam arti yang sebenar-benarnya memilih. Karena tiap warga negara yang sadar akan kedudukannya sebagai warga negara, pastilah punya gambaran, keinginan, cita-cita akan bentuk kekuasaan dari negara ini. Namun, apabila politik diartikan sebagai korupsi terhadap dasar dan kondisi hidup manusia, menurut Wi...

Ihwal Politik dan Puasa

Image
Kompas, 5 Agusturs 2013 Oleh: David Krisna Alka Dapat dipastikan bulan Ramadhan 1434 Hijriah ini akan diramaikan dengan acara memberi bantuan. Menjelang 2014, para politisi dan partai politik tampaknya menjadi murah hati, baik di pusat  maupun di daerah. Bisa jadi, rakyat menerima ”sedekah politis” itu karena memang mereka butuh. Sederhananya, rakyat akan menerima saja, soal memilih politikus atau calon anggota legislatif (caleg) yang memberikan sedekah, itu soal nanti. Tentu saja kita berharap, para politikus dan caleg ini melakukan kebajikan publik yang tulus. Dengan demikian, bulan Ramadhan tidak menjadi ajang ”kebajikan semu”: sekadar untuk berkampanye dan meraih simpati dukungan suara saja. Kebajikan semu akan berdampak pada penderitaan rakyat karena politisi yang sudah berkuasa kembali menunjukkan wajah aslinya, seperti yang sudah kita lihat selama ini. Jutaan rakyat Indonesia menjadi miskin akibat hak-haknya dikorupsi mereka. Kepandaian mereka menyamar ...

Pemimpin bukan Datang dari Surga

Image
"PERSOALANNYA, kita ini sesudah Soekarno tidak punya pemimpin,” kata Pramoedya Ananta Toer. Agaknya, benarlah apa yang pernah dikatakan Pramoedya Ananta Toer, kita seolah kesulitan mencari orang yang dapat memimpin negara ini secara bermartabat dan memiliki integritas yang mantap. Sebab, pencarian pemimpin seolah tampak dilakukan dengan cara semaunya oleh elite politik dan elite kapital saja. Tengok, bermacam cara partai politik mencari-cari calon pemimpin untuk dicalonkan sebagai presiden dalam Pemilu 2014 nanti. Mereka memilah, mengolah, dan memilih para kandidat presiden yang akan bertarung: ada partai politik yang sudah mewacanakan konvensi, ada yang sudah percaya diri mengajukan ketua umum partainya sebagai calon presiden, dan ada pula yang masih ‘meraba-raba’ kian kemari. Munculnya situasi mencari-cari pemimpin seperti itu, seolah tak ada lagi elite yang dapat dipercaya mampu memimpin negara. Kaderisasi pemimpin bangsa dari partai politik berjalan lesu lanta...

Mencolek Bakal Caleg

Media Indonesia, 3 Juli 2013 Oleh: David Krisna Alka BUKAN hanya mesin partai yang mampu menjadikan sebuah partai politik (parpol) dapat memenangi pertarungan pada Pemilu Legislatif 2014 nanti. Integritas dan kualitas bakal calon anggota badan legislatif (caleg) turut menjadi kunci untuk memenangkan suara parpol. Bagi bakal caleg, sistem pemilu dengan keterpilihan berdasarkan suara terbanyak menjadi tantangan. Apalagi, antarkader partai pun akan bertarung merebut suara. Belum lagi, fenomena akhir-akhir ini, potret buruk perilaku sebagian politikus kian tidak mengundang simpati. Bila tidak ada perubahan dan gebrakan bakal caleg yang dapat meraih simpati publik, niscaya masyarakat akan ragu atau tidak mau memilih. Karena, sedari awal, publik melihat seolah parpol menjadi arena tawar-menawar antara penjual dan pembeli, jual-beli suara dan posisi. Bermacam orang dengan latar belakang diri dan profesi mendaftar menjadi bakal caleg. Padahal, menjadi bakal caleg atau menjadi...

"Dance of Your Life" Tiga Tiga

Image
" Terima kasih kepada semua sahabat yang nyata atau yang maya atas ucapan dan doanya. Salam takjub untuk semua. Mari kita menari bersama. Menarikan hidup menjadi fantasista!" -- David Krisna Alka Terus - terang, aku tidak fasih menerjemahkan Bahasa Inggris-Bahasa Indonesia seperti Zaim Rofiqi. Cukup kuserahkan kepada pembaca untuk memakna kata-kata ini “Dance of Your Life”. Yang pasti, dalam usia yang seyogianya kian matang sebagai manusia, 30-40 tahun, walau babini alun , titik kisar perjalanan hidup ini menari-nari kian kemari--belum sehebat Buya Syafii:) Sekarang, aku masih menimbang, apakah dalam proses jalan hidup kelak menjadi tokoh bangsa yang bercahaya di tengah belantara seperti Buya Syafii  atau menjadi Wakil Ketua MPR kayak Pak lik Hajriyanto Y Tohari.