Posts

Showing posts with the label This Week's Reading

Book Review: The Future of Power by Joseph S. Nye Jr

Image
Joseph Nye’s theories on ‘soft’ and ‘smart’ power need no introduction in the field of international relations, with Nye having established himself as a leading thinker through his pioneering liberal institutional approach. In The Future of Power he attempts to address the evolving notion of  power in a new world of non-state actors and emerging economies. Iwan Morgan believes Nye is at times more thought-provoking than persuasive, but the book is full of insightful analysis that any scholar interested in world affairs will find of great interest.  The Future of Power. Joseph S. Nye Jr. Public Affairs. February 2011. 320 pp. Joseph Nye has established himself as one of the foremost thinkers on international relations, and his name is (and likely always will be) associated in particular with his meditations on the benefits and applications of power in its three incarnations: ‘hard’ – the influence obtained through the use of military and/or economic coercion; ‘soft’ – the...

Sastra dan Beban Identitas

Image
Esai Kompas, Minggu, 24 November 2013 Oleh: Gus tf Sakai Kemajuan teknologi, khususnya teknologi informasi, telah mengantarkan kita ke ruang-waktu luwes tak bersekat. Dengan satu kedipan, kita bisa berpindah atau berada di lain tempat. Dengan satu sentuhan, kita dapat berada di lain saat, seolah masa bisa mengerut dan melipat. Dalam kondisi acak-lintas dan tembus-batas seperti itu, sia-sialah usaha untuk menahan atau mengisolasi sesuatu. Maka begitulah kemudian, di zaman mutakhir ini, sesuatu dengan sesuatu lain tak bisa dipisahkan. Dan begitu pulalah seni, atau khususnya sastra, tak bisa dipisahkan untuk tak jadi bagian dari teks-teks lain di luar sastra. Sementara itu, seperti kita tahu, teks sastra punya sifat sangat berbeda—bahkan bertolak belakang—dengan teks-teks di luar sastra. Bila teks-teks di luar sastra seperti teks sosial, teks ekonomi, teks sains, teks agama bahkan teks filsafat bekerja dalam kerangka acuan ”menjadi ada”, teks sastra justru bekerja dalam keran...

Bulan Biru

Image
Gus tf Sakai Aku tahu, kau mengenal bulan biru. Bulan bulat sempurna kedua pada kalender Masehi di bulan yang sama. Purnama ke-13 yang muncul periodik dua atau tiga tahun karena selisih 10,6 hari setiap tahunnya. Tetapi, pernahkah kau melihat purnama kedua itu, dalam setiap 106 kali kemunculan, mengembalikan apa pun kejadian ke suatu malam lain di lain zaman? Dan malam itu, pada zaman di mana para binatang bisa bicara seperti manusia, seorang gadis cilik disuruh ibunya ke sumur, mengambil belanga. ”Belanga yang sudah Ibu cuci ya Nak, telungkup di atas bantalan.” Si gadis menjawab, ”Ya Bu,” seraya bergegas melangkah ke sumur. Tetapi, saat menjulurkan tangan meraih belanga, di bawah terang pendar purnama, ia terkejut. Belanga itu bergerak, merayap turun dari bantalan. ”Bu, Ibu!” teriak si gadis, ”Belanganya merayap!” ”Apa?!” suara si Ibu kaget, tak kalah heran. Kepala si Ibu menjulur dari pintu dapur. ”Ayo Nak, cepat tangkap!” Patuh, si anak menyergap. Tetapi si...

Mereka Rakyat Pekerja!!

Image
Siapakah yang mengangkut bongkahan Batu batu kali dan menyusunnya menjadi candi Siapakah yang mendirikan istana megah  Para raja, tembok tembok kastil dan gerbang gerbang kota Siapakah mereka? Tidakkah mereka rakyat pekerja! Siapakah yang mendirikan gedung gedung menulang Tugu dan menara di setiap simpang jalan? Siapakah yang melicinkan jalan jalan kota Yang membuat mobil mobil petinggi negara dapat melaju kecang? Siapakah yang menata dan merawat taman taman kota Tempat orang orang dari segala usia bercengkrama dan bercinta? Siapakah yang membangun kota sesungguhnya? Siapakah mereka? Tidakkah mereka rakyat pekerja! Tapi, siapakah yang berpuluh, beratus, beribu dan berjuta jumlahnya Yang menghuni dan memenuhi lorong lorong dan gang gang kota tersuruk dalam kekelaman tanpa hari depan? Siapakah mereka? Tidakkah mereka rakyat pekerja!

Tradisi Bijak Kayutanam

Image
Agus Hernawan* Kompas, Sabtu, 9 Februari 2008 BEBERAPA waktu lalu, setiap kali berjalan di depan kantor Dinas Pendidikan Kota Padang, saya paling senang memelototi baliho, yang menurut saya menarik. Menarik karena—ternyata tidak hanya terdapat di Kota Padang, tetapi juga di kota-kota lain— berpotensi menjerumuskan, menyesatkan, dan menjadi kebohongan. Baliho itu memuat gambar sepasang peserta didik, disertai keterangan tentang sekolah menengah kejuruan (SMK) di bawahnya. Kedua peserta didik itu berdiri di pangkal jenjang, tengadah menatap ke ujung jenjang, ke sebuah pintu yang terbuka lebar. Di balik pintu itu terhampar pemandangan sebuah kota dengan gedung-gedung bertingkat dan mobil-mobil berkilat. Kepada mereka, baliho itu menyuguhkan ”kesan” bahwa bersekolah di SMK adalah pilihan paling tepat untuk menuju masa depan yang terang-benderang. Tentu tak ada yang salah dari persuasi atau pesan ini. Persoalannya, sejauh mana ”pesan” ini dapat diterima secara faktual dan ko...