Posts

Showing posts with the label Esai

Fatmawati Srikandi Republik

Image
Memperingati Hari Ibu setiap 22 Desember adalah momen spesial untuk menunjukkan rasa cinta yang lebih mendalam kepada bunda yang melahirkan dan membesarkan kita. Momen Hari Ibu juga dapat kita maknai untuk mengenang “bunda-bunda” yang turut berjuang mendirikan republik ini. Salah seorang Bunda Republik itu adalah Fatmawati.  Barangkali, generasi zaman kini sekadar ingat yang biasa-biasa saja dengan ibu negara pertama republik ini. Fatmawati Soekarno, penjahit pertama bendera Sang Saka Merah Putih. Berikut ini marilah kita mengulang kisah tentang sosok Bunda Republik ini.  Fatmawati adalah putri dari sejoli aktivis Muhammadiyah, Hassan Din dan Siti Chadidjah. Hassan Din merupakan konsul pertama yang mendirikan ormas keagamaan Muhammadiyah di Bengkulu. Hassan Din berperan serta dalam arus besar zaman pergerakan nasional yang di akhir tahun 1920-an telah tersebar sampai ke pelosok-pelosok tanah air. Di Bengkulu, Hassan Din mempelopori pendirian Muhammadiyah dan kemudi...

Serangan HIV/AIDS Dalam Novel

Image
"Makin kurang yang mereka pahami, maka mereka pun makin memuja sulap !" - Hudibras Begitu banyak macam realitas kehidupan yang tertoreh dalam bentuk karya sastra. Ketika menemukan peristiwa yang memilukan, pengalaman yang menggelitik, kejadian nan unik atau eksentrik, dan hal-hal baru yang menggigit, pengarang mengeksplorasi semuanya itu dalam bentuk karya sastra.   Begitu pula dengan pengarang Titie said (1935). Sosok pengarang wanita yang sering menggarap persoalan cinta yang dihubungkan dengan kehidupan keluarga. Model seperti itu juga banyak digarap oleh novelis lainnya seperti Lastri Fardani (1941), Yati Maryati Wiharja (1943-1985), Titiek W.S. (1938), Sri Bekti Subakir, Ike Supomo, La Rose, Marga T, Maria A. Sarjono, Nani Heroe, Nina Pane, Titik Viva, Sari Narulita, Tuti Nonka, dan lain-lain.

Pengarang Perempuan dan Sastra Transformatif

Image
Buletin Sastra Pawon, Senin, 17 Maret 2008 Hal-hal mengenai perempuan memang tak kunjung surut untuk “dikupas.” Daya tarik perempuan banyak menghiasi ruang-ruang dalam kehidupan dunia ini, terutama dalam ruang seni dan budaya. Salah satunya adalah ruang kreatifitas perempuan dalam menulis karya sastra. Sebelumnya, peran perempuan banyak diandalkan dalam urusan keluarga, tetapi kini peran mereka mulai bergeser kepada peran-peran baru di luar keluarga. Peran tradisional perempuan itu perlahan-lahan mulai ditinggalkan. Peran perempuan telah banyak mengalami perubahan. Perempuan merasa bahwa mereka telah menyadari akan kewajiban untuk berbuat sesuatu sejauh yang memungkinkan untuk kesejahteraan, kemakmuran, serta kemajuan masyarakat. Dan, perempuan sebagaimana pria, kini juga mampu melaksanakan peranan intelektual. Tema Sastra Transformatif Berkaitan dengan pesona kreatif perempuan untuk perubahan, dalam wilayah penulisan karya sastra kontomporer sa...

Perempuan Menulis Puisi

Image
Sinar Harapan, 2004 David Krisna Alka Perempuan Penyair Indonesia dilihat dari segi kuantitas dan kualitas sangat sedikit dibandingkan dengan laki-laki penyair. Padahal kekuatan rasa perempuan lebih tinggi dan mendalam dari laki-laki, jika mulanya kekuatan puisi itu adalah rasa sebelum kata. Kompleksitas rasa pada perempuan memiliki daya menggugah yang cukup kuat untuk menulis puisi. Perasaan pada perempuan  begitu dalam. Oleh karena itu potensi perempuan menulis puisi kemungkinan dapat melebihi laki-laki.  Perempuan merubah kekuatan perasaannya membentuk aksara di atas kertas, membuat kata menjadi bermakna, menjadikan imajinasi penuh rasa, dan menangkap realitas dengan perasaan yang dalam menjadi puisi yang terurai dan berkembang. Biasanya, perempuan menulis keluh kesahnya dalam sebuah diari. Keluh kesah pribadi, sosial, dan kegelisahan akan kehidupan. Secara sengaja maupun tak sengaja, perempuan mengkonstruksi realitas dan pengalamannya menjadi...

Negeri Sealun Dendang

Image
Harian Terbit, 2006 David Krisna Alka Ketika pementasan puisi terpinggirkan oleh maraknya pertunjukkan popular di televisi yang menggelinjang akhir-akhir ini. Irman Syah melakukan pelisanan puisi-puisinya dengan sederhana tanpa ruah. Cukup dengan kursi dan meja bundar sebagai properti yang menunggu letih ingin diapresisasi. Tapi, Irman Syah masih saja tetap duduk asyik dengan mengeluarkan bunyi bansi, kemudian berkata-kata. Dengan menggunakan sepasang sepatu yang berlainan warna. Yang kiri merah dan kanan putih, sebuah kesan eksentrik yang sudah biasa dari para penyair kita. Irman Syah mencoba memaknai negeri melaui jaringan penandaan dengan penempatan atau penerapan antara penanda (signifer) dan petanda (signified) -merah dan putih sebagai simbol bendera negara. Sedangkan kain batik dan bansi sebagai pencitraan terhadap sebuah tradisi budaya. Namun, Irman Syah memiliki gaya tersendiri dalam melisankan puisi-puisinya. Sehingga menimbulkan makna ganda antara menguatkan eksplorasi t...

MENGAJARKAN ANAK JALANAN MENULIS SASTRA

Image
Sinar Harapan, 11 Juni 2004 David Krisna Alka Mengapa harus takut pada matahari,  kepalkan tangan lawan teriknya.  Mengapa harus takut pada malam hari,  nyalakan lilin sebagai penerangnya.  (Syair Anak Jalanan) Adakalanya keterbatasan sulit untuk memaklumi keinginan memacu segala bentuk kreativitas pada anak-anak jalanan. Keterbatasan itu salah satunya adalah dalam bentuk ketakmampuan dari segi materi untuk meraihnya dengan mudah. Mereka berjalan di terik matahari, dalam dingin malam, dan di tengah kegalauan negeri yang membiarkan mereka terpaksa untuk patuh terhadap keterbatasan materi tersebut. Sebenarnya anak-anak jalanan adalah anak-anak yang kreatif. Mereka mau menggali potensi yang mereka miliki, seperti berpuisi dan bernyanyi di dalam bis kota, di tengah kemacetan kota, dan di bawah lampu merah, dan mereka memiliki pengalaman hidup yang pahit dan unik. Dalam perjalanan kehidupan mereka, kerikil-kerikil tajam yang menghadang merupakan tantangan hidup yang m...

Membangkitkan Kembali Sastra Profetik

Image
Sinar Harapan, 13 Februari 2005 David Krisna Alka Dalam membaca karya sastra khususnya puisi, mayoritas penikmat sastra mendambakan nuansa keindahan setelah membaca karya sastra. Oleh karena itu, banyak penyair berusaha menuangkan harmoni kata yang indah dalam setiap karya puisi mereka, walau maksud dari  puisi tersebut adalah kegetiran kata yang tak tampak pada kasatmata. Sastra yang bermukim pada wilayah teologi Islam merupakan bibit dari munculnya kesusastraan Melayu. Sastra keagamaan yang merujuk pada Islam itu dapat dibagi menjadi tiga cabang; ilmu tasawuf, ilmu kalam, dan ilmu fikih. Di antara ketiga cabang ilmu dalam kajian Islam itu, ilmu tasawuf yang paling dekat dengan sastra, khususnya sastra Islam.  Mengapa ilmu tasawuf disebut sebagai bibit dari corak sastra Islam? Ilmu tasawuf menjelaskan tentang wilayah esoteris manusia dengan Sang Pencipta. Setelah melewati persinggahan-persinggahan (maqamat) dalam rasa kebatinan yang begitu dalam, banyak tokoh tasawuf (suf...