Posts

Ihwal Politik dan Puasa

Image
Kompas, 5 Agusturs 2013 Oleh: David Krisna Alka Dapat dipastikan bulan Ramadhan 1434 Hijriah ini akan diramaikan dengan acara memberi bantuan. Menjelang 2014, para politisi dan partai politik tampaknya menjadi murah hati, baik di pusat  maupun di daerah. Bisa jadi, rakyat menerima ”sedekah politis” itu karena memang mereka butuh. Sederhananya, rakyat akan menerima saja, soal memilih politikus atau calon anggota legislatif (caleg) yang memberikan sedekah, itu soal nanti. Tentu saja kita berharap, para politikus dan caleg ini melakukan kebajikan publik yang tulus. Dengan demikian, bulan Ramadhan tidak menjadi ajang ”kebajikan semu”: sekadar untuk berkampanye dan meraih simpati dukungan suara saja. Kebajikan semu akan berdampak pada penderitaan rakyat karena politisi yang sudah berkuasa kembali menunjukkan wajah aslinya, seperti yang sudah kita lihat selama ini. Jutaan rakyat Indonesia menjadi miskin akibat hak-haknya dikorupsi mereka. Kepandaian mereka menyamar ...

Pemimpin bukan Datang dari Surga

Image
"PERSOALANNYA, kita ini sesudah Soekarno tidak punya pemimpin,” kata Pramoedya Ananta Toer. Agaknya, benarlah apa yang pernah dikatakan Pramoedya Ananta Toer, kita seolah kesulitan mencari orang yang dapat memimpin negara ini secara bermartabat dan memiliki integritas yang mantap. Sebab, pencarian pemimpin seolah tampak dilakukan dengan cara semaunya oleh elite politik dan elite kapital saja. Tengok, bermacam cara partai politik mencari-cari calon pemimpin untuk dicalonkan sebagai presiden dalam Pemilu 2014 nanti. Mereka memilah, mengolah, dan memilih para kandidat presiden yang akan bertarung: ada partai politik yang sudah mewacanakan konvensi, ada yang sudah percaya diri mengajukan ketua umum partainya sebagai calon presiden, dan ada pula yang masih ‘meraba-raba’ kian kemari. Munculnya situasi mencari-cari pemimpin seperti itu, seolah tak ada lagi elite yang dapat dipercaya mampu memimpin negara. Kaderisasi pemimpin bangsa dari partai politik berjalan lesu lanta...

Mencolek Bakal Caleg

Media Indonesia, 3 Juli 2013 Oleh: David Krisna Alka BUKAN hanya mesin partai yang mampu menjadikan sebuah partai politik (parpol) dapat memenangi pertarungan pada Pemilu Legislatif 2014 nanti. Integritas dan kualitas bakal calon anggota badan legislatif (caleg) turut menjadi kunci untuk memenangkan suara parpol. Bagi bakal caleg, sistem pemilu dengan keterpilihan berdasarkan suara terbanyak menjadi tantangan. Apalagi, antarkader partai pun akan bertarung merebut suara. Belum lagi, fenomena akhir-akhir ini, potret buruk perilaku sebagian politikus kian tidak mengundang simpati. Bila tidak ada perubahan dan gebrakan bakal caleg yang dapat meraih simpati publik, niscaya masyarakat akan ragu atau tidak mau memilih. Karena, sedari awal, publik melihat seolah parpol menjadi arena tawar-menawar antara penjual dan pembeli, jual-beli suara dan posisi. Bermacam orang dengan latar belakang diri dan profesi mendaftar menjadi bakal caleg. Padahal, menjadi bakal caleg atau menjadi...

"Dance of Your Life" Tiga Tiga

Image
" Terima kasih kepada semua sahabat yang nyata atau yang maya atas ucapan dan doanya. Salam takjub untuk semua. Mari kita menari bersama. Menarikan hidup menjadi fantasista!" -- David Krisna Alka Terus - terang, aku tidak fasih menerjemahkan Bahasa Inggris-Bahasa Indonesia seperti Zaim Rofiqi. Cukup kuserahkan kepada pembaca untuk memakna kata-kata ini “Dance of Your Life”. Yang pasti, dalam usia yang seyogianya kian matang sebagai manusia, 30-40 tahun, walau babini alun , titik kisar perjalanan hidup ini menari-nari kian kemari--belum sehebat Buya Syafii:) Sekarang, aku masih menimbang, apakah dalam proses jalan hidup kelak menjadi tokoh bangsa yang bercahaya di tengah belantara seperti Buya Syafii  atau menjadi Wakil Ketua MPR kayak Pak lik Hajriyanto Y Tohari.

Empat Pilar Bangsa sebagai Warisan Luhur

Media Indonesia, 11 Juni 2013 Oleh: David Krisna Alka    "Kepergianmu mewariskan buku yang tak kunjung usai ditulis anak bangsa.  Bak buku kehidupan yang tak kunjung padam diperjuangkan, kematian adalah sebuah kepastian, dan kepergianmu meninggalkan kebaikan"-- David Krisna Alka DUKA kebangsaan kembali menerpa hati Indonesia. Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat Taufiq Kiemas (Pak TK) dipanggil Tuhan Yang Maha Esa. Di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta Selatan (9/6), jasad Pak TK dikebumikan secara bersahaja. Sebab, ia sosok yang luar biasa. Memang, gaya dan penampilannya selama ini terkesan biasa dan tak `wah' dalam sorotan media. Kepergian Pak TK bukanlah kepergian Empat Pilar Bangsa: Pancasila, UUD 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), dan Bhinneka Tunggal Ika. Semarak sosialisasi program empat pilar bangsa sudah bergerak dengan beragam tema, bermacam wadah, dan meluas ke berbagai daerah. Menurut Wakil Ketua MPR H...

Lisan dan Laku Politikus Era Reformasi

Sinar Harapan, Rabu,  22 Mei  2013 Oleh: David Krisna Alka Lima belas tahun reformasi telah berjalan di titian demokrasi republik ini. Sudah 15 tahun reformasi tapi dalam berbagai media tampak lebih banyak ketidakjelasan lisan dan etika politik para politikus. Kerancuan lisan dan laku politik hadir secara cepat di ruang publik. Politik yang tidak santun tersebar dan sangat mudah diserap oleh generasi politik bangsa kelak. Di negeri ini, hampir setiap hari hadir bermacam bentuk informasi yang lucu, aneh, sedih, dan geli. Ingatan kolektif, pengetahuan, informasi, atau perbendaharaan kultural cenderung dilakukan secara lisan, baik secara langsung maupun tak langsung. Sulit dibantah tradisi lisan ini terus mengalir dari generasi ke generasi. Taufik Abdullah (2001) menjelaskan, masyarakat Indonesia mengalami lompatan dalam tradisi lisan, dari tradisi budaya lokal menjadi corak baru tradisi lisan (new kind of orality), di mana sumber informasinya lebih bersifa...

Asrama dan Kebangkitan Pemuda Era Media Sosial

Image
Media Indonesia, Jumat, 10 Mei 2013 Oleh David Krisna Alka DULU, Indonesia pernah memiliki kalangan muda sebagai pejuang dan pemikir yang menumbuhkan kesadaran kebangsaan dan hak-hak kemanusiaan di kalangan rakyat Indonesia untuk memperoleh kemerdekaan. Mereka mendorong semangat rakyat melalui pikir, ucap, dan laku dalam berjuang membebaskan negeri ini dari penindasan kolonialis. Kini, era sudah berganti. `Peradaban' pemuda beralih ke ranah media sosial. Memang, zaman kini berbeda dengan era bambu runcing dan era mendengar informasi hanya dari radio. Seiring dengan era diplomasi dan komunikasi yang sudah mengalami perubahan luar biasa dan memutarbalikkan zaman, media sosial dan wadah interaksi lainnya sudah jauh lebih maju. Kebangkitan dari asrama Asrama pemuda pernah menjadi tempat menyatunya spirit kaum muda. Itu menjadi tempat pembahasan mengenai Indonesia bertumpahruah, merebut kemerdekaan, ataupun meruntuhkan rezim diktator. Di asrama-asrama itu, kaum muda menyatu ...

Menyoal Apatisme Publik terhadap Politisi

Image
S epertinya kian bertambah saja masyarakat yang tak percaya kepada politisi dan organisasi politik. Bagi sebagian besar masyarakat yang apatis terhadap politik itu menganggap politisi acap kali membohongi diri sendiri. Janji mereka tulus, tapi kebohongan mereka lebih tulus lagi. Dalam politik, biasanya kaidah pertama bagi politisi ialah memperoleh kekuasaan.  Kaidah kedua ialah mempertahankan kekuasaan. Namun, dalam perjalanannya, kekuasaan membuat sebagian politisi di negeri ini terbuai dan goyah di tengah jalan ketika meraih kekuasaan atau tatkala berada dalam sebuah kekuasaan. Kegoyahan tersebut salah satunya akibat terjebak dalam polah politik transaksional, kultur politik uang, dan politik konsumtif. Tak mengherankan, politisi yang ingin menjadi calon anggota legislatif tak cukup punya modal duit hanya ‘sedompet’.  Selain itu, korupsi yang melibatkan pimpinan partai atau kader sebuah partai politik (parpol), pelan tapi pasti, akan diprediksi sulit mendapa...

Bulan Biru

Image
Gus tf Sakai Aku tahu, kau mengenal bulan biru. Bulan bulat sempurna kedua pada kalender Masehi di bulan yang sama. Purnama ke-13 yang muncul periodik dua atau tiga tahun karena selisih 10,6 hari setiap tahunnya. Tetapi, pernahkah kau melihat purnama kedua itu, dalam setiap 106 kali kemunculan, mengembalikan apa pun kejadian ke suatu malam lain di lain zaman? Dan malam itu, pada zaman di mana para binatang bisa bicara seperti manusia, seorang gadis cilik disuruh ibunya ke sumur, mengambil belanga. ”Belanga yang sudah Ibu cuci ya Nak, telungkup di atas bantalan.” Si gadis menjawab, ”Ya Bu,” seraya bergegas melangkah ke sumur. Tetapi, saat menjulurkan tangan meraih belanga, di bawah terang pendar purnama, ia terkejut. Belanga itu bergerak, merayap turun dari bantalan. ”Bu, Ibu!” teriak si gadis, ”Belanganya merayap!” ”Apa?!” suara si Ibu kaget, tak kalah heran. Kepala si Ibu menjulur dari pintu dapur. ”Ayo Nak, cepat tangkap!” Patuh, si anak menyergap. Tetapi si...

"Politik" Waktu; Selamat Tahun Baru

Image
Tahun demi tahun berganti dan berlalu. Begitulah waktu, tak menunggu. Waktu tak akan pernah rapuh. Kitalah yang acap kali rapuh digilas waktu. Ketika dikejar deadline, mengerjakannya tunggang-langgang. Waktu lengang, celingak-celinguk klik sana klik sini, duh! Begitulah hari ini. Aku melihat Si Buyung sedang dikejar deadline akhir tahun. Seolah kemanfaatan waktu baginya di saat injury time . Kadang aku pun seperti itu. Soal perkara politik di republik ini kadang juga begitu, politik injury time . Mengadili koruptor, memutuskan perkara moral elite, dan menentukan ratusan juta manusia Indonesia, selalu di ujung waktu. *** Tik...tik...tik.. aku mendelik tiap detik ujung tahun. Rupa bulan dan wajah matahari tak akan berubah meskipun tahun berganti. Namun rupa dan wajah kita dapat berubah dan berganti, tak bisa disembunyi. Kini adalah senyata-nyatanya waktu. Semua yang bergerak merupakan pengertian kita tentang “kini”. Ya, hidup kini yang berarti, setelah itu mati. B...

Kepemimpinan tanpa Nyali

Image
Media Indonesia, 20/12/2012 David Krisna Alka, Peneliti Populis Institute dan Maarif Institute for Culture and Humanity Apa makna penting dari kepemimpinan politik di tengah berseraknya kasus korupsi di Tanah Air ini?  Maknanya, ketidakpercayaan masyarakat terhadap institusi politik makin tinggi. Di Republik ini, ketika kader partai politik (parpol), baik itu yang di legislatif maupun di eksekutif, terlibat korupsi, tidak ada keputusan (ketulusan) dan peringatan yang cepat dilakukan kepemimpinan institusi politik. Patologi korupsi menghantui kepemimpinan di negeri ini. Masyarakat yang dipimpin kepemimpinan yang cenderung korup bisa menjatuhkan kepemimpinan. Dengan menarik pernyataan Xin Jinping (2012), korupsi diibaratkan sebagai cacing yang berkembang biak di bagian yang membusuk. Sebuah pepatah kuno China yang berarti kejatuhan bakal menimpa pihak yang lemah. Artinya, dosa politik yang bernama korupsi bisa melemahkan kepemimpinan dalam sebuah negeri. Fakta men...

Muhammadiyah dan Kaum Miskin Kota

Image
Kompas, 02 Juli 2006 Oleh: David Krisna Alka Dakwah Islam yang membebaskan dan mencerahkan bagi kaum mustadhāfin, yang sering disuarakan aktivis Muhammadiyah, sedang dipertanyakan praksisnya oleh kaum miskin kota. Selama ini Muhammadiyah telah menyelenggarakan berbagai kegiatan sosial keagamaan yang bermanfaat. Sayang, Muhammadiyah masih kurang peduli (belum memberi manfaat) pada kelompok tertindas seperti petani, buruh, pedagang kecil, dan kaum miskin kota. Kehidupan kaum miskin kota amat memprihatinkan. Dengan kebutuhan hidup minimum, mereka terpaksa menjadi pemulung, buruh, dan pengamen. Tak jarang, kita lihat ibu-ibu mengamen sambil mengendong anaknya. Semua itu dilakukan untuk mencukupi kebutuhan hidup. Muhammadiyah, yang merupakan gerakan Islam kota kelas menengah, mestinya lebih dekat dengan kaum miskin.  Di bidang pendidikan, misalnya, biaya sekolah dan kuliah di lembaga pendidikan Muhammadiyah tak terjangkau anak-anak miskin kota. Sebagai ormas Islam ber...

"Api" Muhammadiyah

Image
David Krisna Alka – detikNews, Senin, 19/11/2012 Jakarta - Walau hujan deras dan angin bertiup kencang, perhelatan milad satu abad berdirinya Muhammadiyah kemarin (18/11) di Gelora Bung Karno tak menyurutkan semangat warga Muhammadiyah datang memenuhi stadion. Merekalah arus bawah Muhammadiyah yang berbondong-bondong datang, menjadi basis dan ruh gerakan hingga Muhammadiyah masih ada dan tumbuh-berkembang sampai sekarang. Satu abad Muhammadiyah telah menggerakkan sejarah cukup besar di Republik Indonesia. Tak ada yang dapat menyangkal kebesaran organisasi keagamaan Muhammadiyah dari segala penjuru bidang yang digelutinya. Tokoh-tokoh bangsa pun cukup banyak lahir dari “rahim’ Muhammadiyah. Namun pertanyaannya, bagaimana arus bawah dalam “tubuh” Muhammadiyah? Persoalannya, di tengah ruang informasi politik, sosial, dan budaya menjalar cepat, kekaburan informasi tentang persoalan bangsa, di mana Muhammadiyah menjadi bagian penting di dalamnya, perlu diperhatikan secara seksa...

Yang Muda Lupa Pancasila

Image
David Krisna Alka Media Indonesia, 14 November 2012                         “Marilah pemuda Indonesia, kita saling menyendi, sokong-menyokong agar Pancasila menjadi ideologi hidup, bukan ideologi mati." SEJARAH lahirnya bangsa Indonesia tak bisa lepas dari perjuangan para pemuda. Begitu pula bangsa Indonesia, masih ada karena Pancasila, fondasi bangsa yang menjadi perekat dan platform bersama di antara seluruh masyarakat. Pancasila merupakan kesatuan menyeluruh dari kesadaran historis dan kesadaran praktis bagi rakyat Indonesia. Namun, maraknya tawuran di kalangan pelajar, mahasiswa, dan pemuda seolah mencibir Pancasila yang terpajang di dinding kelas sekolah, ruang rektorat kampus, gedung wakil rakyat, dan di dalam istana. Pancasila dikebiri generasi muda ahli waris Republik ini. Penghargaan atas hak hidup tak lagi dijadikan landasan dalam bertindak. Meluka...