Bulan Biru
Gus tf
Sakai
Aku
tahu, kau mengenal bulan biru. Bulan bulat sempurna kedua pada kalender Masehi
di bulan yang sama. Purnama ke-13 yang muncul periodik dua atau tiga tahun
karena selisih 10,6 hari setiap tahunnya. Tetapi, pernahkah kau melihat purnama
kedua itu, dalam setiap 106 kali kemunculan, mengembalikan apa pun kejadian ke
suatu malam lain di lain zaman?
Dan
malam itu, pada zaman di mana para binatang bisa bicara seperti manusia,
seorang gadis cilik disuruh ibunya ke sumur, mengambil belanga. ”Belanga yang
sudah Ibu cuci ya Nak, telungkup di atas bantalan.”
Si
gadis menjawab, ”Ya Bu,” seraya bergegas melangkah ke sumur. Tetapi, saat
menjulurkan tangan meraih belanga, di bawah terang pendar purnama, ia terkejut.
Belanga itu bergerak, merayap turun dari bantalan.
”Bu,
Ibu!” teriak si gadis, ”Belanganya merayap!”
”Apa?!”
suara si Ibu kaget, tak kalah heran. Kepala si Ibu menjulur dari pintu dapur.
”Ayo Nak, cepat tangkap!”
Patuh,
si anak menyergap. Tetapi si belanga, yang sebenarnya adalah seekor kura-kura,
menggelicit dari tangkup tangan si gadis, terus meluncur ke arah sungai.
”Bu,
belanganya lari! Ke arah sungai!”
”Ayo
Nak, cepat kejar!”
Si
gadis cilik yang masih tak sadar yang disangkanya belanga adalah kura-kura,
dengan patuh lalu mengejar. Tetapi, begitulah, pada zaman di mana kura-kura
bisa bergerak cepat seperti buaya, usaha itu cuma sia-sia. Si gadis
tergelincir, tepat saat si belanga melompat ke sungai. Si gadis terguling, ikut
jatuh ke sungai, seolah menyusul si kura-kura. Dan lalu, entah bagaimana caranya,
mereka kemudian tersedot, bagai diisap diputar arus, terseret ke kedalaman. Dan
entah bagaimana pula caranya, tiba-tiba mereka telah terempas, berada dalam
lukah raksasa.
Seiring
dengan kesadaran (tentu juga keheranan) si gadis yang tetap bisa bernapas, tak
megap-megap seolah masih berada di udara bebas, lukah raksasa tiba-tiba sirna.
Malam, dan di langit masih purnama. Namun aneh, warna bulan seperti berbeda.
Biru? Si gadis mengamati sekeliling, dan tiba-tiba sadar: tak ada lagi sungai,
tak lagi tampak rumahnya. ”Kita berada di mana?” desis suara, tiba-tiba pula,
terdengar dari dekat kakinya.
Si
gadis cilik menundukkan wajah, mengerjap-ngerjap menajamkan mata. Di bawah
lindap biru purnama, ia mengenali sumber suara: si belanga. Barulah si gadis
cilik sadar yang sejak mula disangkanya belanga ternyata seekor kura-kura. Ah,
bodohnya. Tetapi, bodoh atau tidak, kini, tak lagi sempat ia pikirkan. Apalagi
saat suara kecil si kura-kura jadi lengking ketika berteriak:
”Lihat!”
Di
depan mereka, bagai tersingkap dari kelam (atau dari kabut?), orang-orang
berlalu-lalang. Bukan, bukan berlalu-lalang, melainkan ramai-ramai bekerja,
gotong-royong membangun sesuatu. Bukan, bukan gotong-royong, melainkan seperti
berpesta, karena bekerja dengan sorai ”Huraaa!” dan gelak tawa.
Si
gadis cilik tertegun. Si kura-kura terlongong. Bangunan apakah yang sedang
orang-orang ini kerjakan? Sangat besar, sangat tinggi. Begitu besarnya, hingga
seolah menutup keluasan pandang. Begitu tingginya, hingga seolah menjangkau
mencapai bulan.
Aku
tahu, kau mengenal banyak bangunan aneh. Bangunan ajaib, tak masuk akal, yang
tak mungkin diciptakan oleh suatu masyarakat pada suatu zaman. Stonehenge di
Wiltshire, patung-patung vulkanik di Pulau Paskah, ataupun piramida yang
berserak menyebar tak habis-habis di sepanjang Sungai Nil. Tanpa ada paku, lem,
atau perekat apa pun, bagaimana cara menyusun ribuan batu yang beratnya puluhan
ton?
Dan
kini, pada suatu tempat di zaman sekarang, hal serupa juga terjadi. Sebuah
bukit, setelah kebetulan longsor dan digali, ternyata adalah bangunan raksasa,
dari zaman sangat lama, yang bahkan tak mungkin diciptakan oleh masyarakat
modern masa kini. Profesor Kipling, si pemimpin ekskavasi, tercengang, takjub,
dan lebih takjub lagi saat mendapati kenyataan si bangunan ditemukan dalam
masyarakat yang sama sekali tak mengenal tugu atau candi. ”Kenapa bisa?”
desisnya.
Dan
desis itu, karena berkaitan dengan ilmu lain yang bukan bidangnya, membuat
Profesor Kipling butuh profesor lain, Dananjaya, antropolog lokal, yang justru
lebih tercengang lagi. ”Dalam suku, dalam kultur masyarakat adat egaliter yang
tak kenal peringatan berupa bangunan … kenapa bisa?”
Ketercengangan
Profesor Dananjaya bertahan lama. Sangat lama. Bahkan lebih lama dari Profesor
Kipling yang setelah si bangunan raksasa selesai diekskavasi, tuntas
direnovasi, kembali ke negaranya.
Ketercengangan
Profesor Dananjaya bertahan lama. Sangat lama. Bahkan diteruskan kepada
muridnya, Profesor Mulyana, yang tak henti-henti memikirkan sebuah bangunan
berupa pemujaan (atau prasasti?) ditemukan dalam masyarakat adat yang sistem
kepemimpinannya tak berada di tangan seorang raja atau otokrasi.
Eh,
otokrasi?
Tentu
saja, tentu saja ada otokrasi di suku ini. Profesor Mulyana tahu, bentuk
kepemimpinan dalam masyarakat adat suku ini berasal dari dua datuk: Datuk
Perpatih Nan Sabatang dan Datuk Katumanggungan. Datuk pertama memang percaya
bahwa sumber gagasan, inisiatif, dan keputusan berasal dari rakyat karena
rakyatlah yang sebenarnya tahu apa yang mereka butuhkan. Tetapi datuk kedua,
Katumanggungan, bukankah selamanya percaya bahwa pemimpin adalah sumber
gagasan, sumber inisiatif, dan sumber keputusan?
Datuk
Katumanggungan … ya, datuk yang menyebut bentuk kepemimpinannya sebagai menetes
dari langit dan suatu keputusan diambil dengan bertangga turun. Ya, bukankah
itu otokrasi?
Aku
tahu, kau bakal mengenal bangunan itu. Bangunan yang dilihat si gadis cilik,
yang disaksikan si kura-kura, saat purnama berubah warna. Waktu. Bulan merah menjelma
biru, malam terang jadi kelabu, semua melompat ke masa lalu. Waktu. Saat waktu
seolah melipat, ujung satu bertemu ujung lainnya, apakah yang mampu bertahan,
adakah yang masih bisa tersimpan, sebagai rahasia?
Dan
malam itu, demikianlah, seekor bebek mendekati si gadis cilik dan si kura-kura.
Sebelum mereka sempat bertanya, si bebek berkata bagai bergumam, ”Begitu licik,
begitu dalam goda kuasa.”
”Maksudmu?”
tanya si kura-kura. Mereka masih sama tertegun, sama tercengang. Dalam samar,
dalam lindap (atau dalam kabut?) sinar bulan biru, mereka lihat orang-orang
menghela, menyeret, dan mendorong bongkah-bongkah batu. Batu-batu itu
dipindahkan, dinaikkan, dengan tali, tangga-tangga dan roda-roda. Sesekali
aba-aba, lalu sorak ”Huraaa!” dan gelak tawa.
Si
bebek masih diam (atau mungkin seperti berdesah), hingga si kura-kura kembali
bertanya. ”Maksudmu?”
”Maksudku
… mm ya, bangunan itu.”
”Ada
apa dengan bangunan itu? Mereka membikin apa? Dan kenapa licik? Lalu, yang
kausebut goda kuasa?”
”Ah
pertanyaanmu kok sekaligus. Ayolah, satu-satu.”
”Baik.
Ini dulu: mereka membikin apa?”
”Ya
seperti kalian lihat, mereka membikin bangunan. Dari batu-batu. Batu-batu yang
bahkan didatangkan dari jauh. Bukan dari sini.”
”Lho,
kenapa dari jauh? Kenapa bukan dari sini?”
”Ya
memang harus begitu. Biar bangunan ini selesai lebih lama. Dan biar lebih
sulit.”
”Loh,
aneh. Bukankah mestinya dibuat lebih mudah. Dan secepat mungkin.”
”Itu
bagi kita, atau bagi orang-orang yang bekerja. Tetapi bagi raja, tidak.”
”O,” si
kura-kura menatap si bebek, ”jadi, bangunan ini dibuat atas perintah raja?
Lalu, kenapa raja ingin bangunan ini selesai lebih lama dan lebih sulit?”
”Itulah
yang tadi kusebut goda kuasa. Dengan lebih lama dan lebih sulit, orang-orang,
para rakyat ini, hanya akan terpaku pada pembangunan ini. Rakyat akan jadi lupa
bagaimana raja menjalankan negara. Rakyat jadi tak peduli pada apa pun, juga
pada berapa lama sang raja berkuasa.”
”Tetapi,”
si kura-kura seperti kurang puas, seperti kurang mengerti, ”mereka bekerja
dengan gembira. Tak ada masalah bagi orang-orang ini, bagi rakyat ini. Kau
lihat, betapa riangnya mereka.”
”Haa,
kau juga tertipu. He he. Memang begitulah. Rakyat sengaja dibuat lengah. Raja
akan bilang ini-itu, membuat cerita ini-itu, menciptakan mitos ini-itu, agar
rakyat merasa telah melakukan hal sangat penting, sesuatu yang sangat berharga.
Mereka jadi riang. Jadi bangga. Itulah sebab kenapa tadi kubilang licik.”
”Mmm
…,” si kura-kura masih akan berkata, tetapi kemudian memilih diam. Diangkatnya
wajah, tengadah, menatap ke puncak bangunan. Menembus lindap. Menembus kabut?
Tinggi. Lebih tinggi. Bulan biru. Bulan waktu.
Aku
tahu, kau mengenal bulan itu. Bulan biru, bulan waktu. Mungkin kau peduli,
entah, mungkin juga tak peduli, entah, saat malam seperti berjubah dan kabut
bagai merendah. Mungkin seseorang akan tersedot, entah, mungkin juga akan
terisap atau terlempar, entah, saat purnama berubah warna dan si seseorang
telah berada di lain masa. Si seseorang itu, kau lihat, tidakkah ia Profesor
Mulyana?
Dan
malam itu, pada zaman di mana para binatang bisa bicara seperti manusia,
Profesor Mulyana bertemu dengan seekor kura-kura. Ya, kura-kura yang sudah kau
tahu, dan kini jadi jawab, segala ketercengangan Profesor Mulyana.
”Goda
kuasa?” gumam Profesor Mulyana, masih tak percaya, ketika si kura-kura
menyelesaikan cerita.
”Ya,”
jawab si kura-kura pendek, ”karena begitulah kata si bebek.”
Payakumbuh,
2012
*Terima
kasih kepada Elang Sikat Elang Sigonggong, cerita rakyat Merangin, Jambi,
sumber inspirasi cerpen ini.
Sumber Kompas Cetak, 6 Januari 2013
Comments