Posts

Menyoal Apatisme Publik terhadap Politisi

Image
S epertinya kian bertambah saja masyarakat yang tak percaya kepada politisi dan organisasi politik. Bagi sebagian besar masyarakat yang apatis terhadap politik itu menganggap politisi acap kali membohongi diri sendiri. Janji mereka tulus, tapi kebohongan mereka lebih tulus lagi. Dalam politik, biasanya kaidah pertama bagi politisi ialah memperoleh kekuasaan.  Kaidah kedua ialah mempertahankan kekuasaan. Namun, dalam perjalanannya, kekuasaan membuat sebagian politisi di negeri ini terbuai dan goyah di tengah jalan ketika meraih kekuasaan atau tatkala berada dalam sebuah kekuasaan. Kegoyahan tersebut salah satunya akibat terjebak dalam polah politik transaksional, kultur politik uang, dan politik konsumtif. Tak mengherankan, politisi yang ingin menjadi calon anggota legislatif tak cukup punya modal duit hanya ‘sedompet’.  Selain itu, korupsi yang melibatkan pimpinan partai atau kader sebuah partai politik (parpol), pelan tapi pasti, akan diprediksi sulit mendapa...

Bulan Biru

Image
Gus tf Sakai Aku tahu, kau mengenal bulan biru. Bulan bulat sempurna kedua pada kalender Masehi di bulan yang sama. Purnama ke-13 yang muncul periodik dua atau tiga tahun karena selisih 10,6 hari setiap tahunnya. Tetapi, pernahkah kau melihat purnama kedua itu, dalam setiap 106 kali kemunculan, mengembalikan apa pun kejadian ke suatu malam lain di lain zaman? Dan malam itu, pada zaman di mana para binatang bisa bicara seperti manusia, seorang gadis cilik disuruh ibunya ke sumur, mengambil belanga. ”Belanga yang sudah Ibu cuci ya Nak, telungkup di atas bantalan.” Si gadis menjawab, ”Ya Bu,” seraya bergegas melangkah ke sumur. Tetapi, saat menjulurkan tangan meraih belanga, di bawah terang pendar purnama, ia terkejut. Belanga itu bergerak, merayap turun dari bantalan. ”Bu, Ibu!” teriak si gadis, ”Belanganya merayap!” ”Apa?!” suara si Ibu kaget, tak kalah heran. Kepala si Ibu menjulur dari pintu dapur. ”Ayo Nak, cepat tangkap!” Patuh, si anak menyergap. Tetapi si...

"Politik" Waktu; Selamat Tahun Baru

Image
Tahun demi tahun berganti dan berlalu. Begitulah waktu, tak menunggu. Waktu tak akan pernah rapuh. Kitalah yang acap kali rapuh digilas waktu. Ketika dikejar deadline, mengerjakannya tunggang-langgang. Waktu lengang, celingak-celinguk klik sana klik sini, duh! Begitulah hari ini. Aku melihat Si Buyung sedang dikejar deadline akhir tahun. Seolah kemanfaatan waktu baginya di saat injury time . Kadang aku pun seperti itu. Soal perkara politik di republik ini kadang juga begitu, politik injury time . Mengadili koruptor, memutuskan perkara moral elite, dan menentukan ratusan juta manusia Indonesia, selalu di ujung waktu. *** Tik...tik...tik.. aku mendelik tiap detik ujung tahun. Rupa bulan dan wajah matahari tak akan berubah meskipun tahun berganti. Namun rupa dan wajah kita dapat berubah dan berganti, tak bisa disembunyi. Kini adalah senyata-nyatanya waktu. Semua yang bergerak merupakan pengertian kita tentang “kini”. Ya, hidup kini yang berarti, setelah itu mati. B...

Kepemimpinan tanpa Nyali

Image
Media Indonesia, 20/12/2012 David Krisna Alka, Peneliti Populis Institute dan Maarif Institute for Culture and Humanity Apa makna penting dari kepemimpinan politik di tengah berseraknya kasus korupsi di Tanah Air ini?  Maknanya, ketidakpercayaan masyarakat terhadap institusi politik makin tinggi. Di Republik ini, ketika kader partai politik (parpol), baik itu yang di legislatif maupun di eksekutif, terlibat korupsi, tidak ada keputusan (ketulusan) dan peringatan yang cepat dilakukan kepemimpinan institusi politik. Patologi korupsi menghantui kepemimpinan di negeri ini. Masyarakat yang dipimpin kepemimpinan yang cenderung korup bisa menjatuhkan kepemimpinan. Dengan menarik pernyataan Xin Jinping (2012), korupsi diibaratkan sebagai cacing yang berkembang biak di bagian yang membusuk. Sebuah pepatah kuno China yang berarti kejatuhan bakal menimpa pihak yang lemah. Artinya, dosa politik yang bernama korupsi bisa melemahkan kepemimpinan dalam sebuah negeri. Fakta men...

Muhammadiyah dan Kaum Miskin Kota

Image
Kompas, 02 Juli 2006 Oleh: David Krisna Alka Dakwah Islam yang membebaskan dan mencerahkan bagi kaum mustadhāfin, yang sering disuarakan aktivis Muhammadiyah, sedang dipertanyakan praksisnya oleh kaum miskin kota. Selama ini Muhammadiyah telah menyelenggarakan berbagai kegiatan sosial keagamaan yang bermanfaat. Sayang, Muhammadiyah masih kurang peduli (belum memberi manfaat) pada kelompok tertindas seperti petani, buruh, pedagang kecil, dan kaum miskin kota. Kehidupan kaum miskin kota amat memprihatinkan. Dengan kebutuhan hidup minimum, mereka terpaksa menjadi pemulung, buruh, dan pengamen. Tak jarang, kita lihat ibu-ibu mengamen sambil mengendong anaknya. Semua itu dilakukan untuk mencukupi kebutuhan hidup. Muhammadiyah, yang merupakan gerakan Islam kota kelas menengah, mestinya lebih dekat dengan kaum miskin.  Di bidang pendidikan, misalnya, biaya sekolah dan kuliah di lembaga pendidikan Muhammadiyah tak terjangkau anak-anak miskin kota. Sebagai ormas Islam ber...

"Api" Muhammadiyah

Image
David Krisna Alka – detikNews, Senin, 19/11/2012 Jakarta - Walau hujan deras dan angin bertiup kencang, perhelatan milad satu abad berdirinya Muhammadiyah kemarin (18/11) di Gelora Bung Karno tak menyurutkan semangat warga Muhammadiyah datang memenuhi stadion. Merekalah arus bawah Muhammadiyah yang berbondong-bondong datang, menjadi basis dan ruh gerakan hingga Muhammadiyah masih ada dan tumbuh-berkembang sampai sekarang. Satu abad Muhammadiyah telah menggerakkan sejarah cukup besar di Republik Indonesia. Tak ada yang dapat menyangkal kebesaran organisasi keagamaan Muhammadiyah dari segala penjuru bidang yang digelutinya. Tokoh-tokoh bangsa pun cukup banyak lahir dari “rahim’ Muhammadiyah. Namun pertanyaannya, bagaimana arus bawah dalam “tubuh” Muhammadiyah? Persoalannya, di tengah ruang informasi politik, sosial, dan budaya menjalar cepat, kekaburan informasi tentang persoalan bangsa, di mana Muhammadiyah menjadi bagian penting di dalamnya, perlu diperhatikan secara seksa...

Yang Muda Lupa Pancasila

Image
David Krisna Alka Media Indonesia, 14 November 2012                         “Marilah pemuda Indonesia, kita saling menyendi, sokong-menyokong agar Pancasila menjadi ideologi hidup, bukan ideologi mati." SEJARAH lahirnya bangsa Indonesia tak bisa lepas dari perjuangan para pemuda. Begitu pula bangsa Indonesia, masih ada karena Pancasila, fondasi bangsa yang menjadi perekat dan platform bersama di antara seluruh masyarakat. Pancasila merupakan kesatuan menyeluruh dari kesadaran historis dan kesadaran praktis bagi rakyat Indonesia. Namun, maraknya tawuran di kalangan pelajar, mahasiswa, dan pemuda seolah mencibir Pancasila yang terpajang di dinding kelas sekolah, ruang rektorat kampus, gedung wakil rakyat, dan di dalam istana. Pancasila dikebiri generasi muda ahli waris Republik ini. Penghargaan atas hak hidup tak lagi dijadikan landasan dalam bertindak. Meluka...

Bunga Hatta dan Taher Marah Sutan

Harian Singgalang Oleh: David Krisna Alka Beliau memberikan dorongan kepada para pemuda untuk bekerja keras mengusir penjajah dan menegakkan kemerdekaan di bumi pertiwi ini (Bung Hatta) Pahlawan yang tak dikenal dikaburkan sosoknya dan dipendam saja jasanya. Salah seorang "pahlawan tak dikenal" itu adalah Engku Taher Marah Sutan. Bung Hatta mengagumi tokoh pergerakan ini. Konon, pada masa perjuangan kemerdekaan, banyak anak-anak muda, yang kemudian menjadi tokoh penting dalam kemerdekaan Indonesia, menimba ilmu dari Engku Taher Marah Sutan. Dalam lingkungan orang-orang terkemuka di Padang, Engku Taher Marah Sutan dipandang sebagai primus interpares. Apabila Haji Abdullah Ahmad (Hamka) terkemuka dalam gerakan agama, Engku Taher Marah Sutan terkemuka dalam urusan sosial. Dalam buku Memoir Bung Hatta (1979) kesederhanaan ayah dari  Tarmizi Taher (Mantan Menteri Agama RI) ini menjadi panutan bagi Bung Hatta. Dalam hidupnya sehari-hari, Engku Taher Marah Sut...

Mereka Rakyat Pekerja!!

Image
Siapakah yang mengangkut bongkahan Batu batu kali dan menyusunnya menjadi candi Siapakah yang mendirikan istana megah  Para raja, tembok tembok kastil dan gerbang gerbang kota Siapakah mereka? Tidakkah mereka rakyat pekerja! Siapakah yang mendirikan gedung gedung menulang Tugu dan menara di setiap simpang jalan? Siapakah yang melicinkan jalan jalan kota Yang membuat mobil mobil petinggi negara dapat melaju kecang? Siapakah yang menata dan merawat taman taman kota Tempat orang orang dari segala usia bercengkrama dan bercinta? Siapakah yang membangun kota sesungguhnya? Siapakah mereka? Tidakkah mereka rakyat pekerja! Tapi, siapakah yang berpuluh, beratus, beribu dan berjuta jumlahnya Yang menghuni dan memenuhi lorong lorong dan gang gang kota tersuruk dalam kekelaman tanpa hari depan? Siapakah mereka? Tidakkah mereka rakyat pekerja!

Bertanya-tanya tentang Pemimpin

Kompas, 31 Oktober 2012 Oleh: David Krisna Alka "Kita tak perlu tepuk dan sorak kalau kita tak sanggup berjuang,” kata Bung Hatta. Ya, kita tak ingin pemimpin yang tak sanggup berjuang, yang melulu berpijak pada teriak dan slogan, bukan pada kenyataan! Barangkali hanya Indonesia, negara yang sudah puluhan tahun merdeka, tetapi masih bertanya-tanya pemimpin macam apa yang kita perlukan. Sebab, selama ini belum ada ”tangan-tangan” keadilan dari kepemimpinan yang mewujudkan kemakmuran rakyat di Tanah Air yang berlimpah kekayaan ini. Indonesia dihadapkan pada kenyataan lemahnya basis-basis kepemimpinan dan tiadanya kepemimpinan yang berjuang setelah menang dalam perebutan kekuasaan. Lebih banyak pemimpin yang berjuang saat berebut kekuasaan. Lantas apa yang membuat kita gelisah dan bertanya-tanya mengenai seperti apa pemimpin di republik ini? Basis Kepemimpinan Hampir setiap hari ada saja berita tentang kebobrokan basis-basis kepemimpinan. Kerusakan mental bangs...

Restorasi Kemanusiaan Indonesia

Media Indonesia, Rabu, 19 September 2012 Oleh: David Krisna Alka                         PANCASILA sudah tumpul dan tak bernyawa di dalam dada aparatur negara yang abai terhadap luka berdarah hingga hilangnya nyawa warga negara. Apakah kisah kekerasan itu akan diceritakan turun-temurun kepada anakanak ahli waris Indonesia? Kekerasan demi kekerasan, tembakan demi tembakan, letupan demi letupan, begitulah seolah wajah Indonesia. Pemangku pemerintahan dan penanggung jawab sebagai pelindung warga negara terkesan hanya meluapkan emosi karitatif mereka di media. Di samping itu, belum ada implikasi nyata atas pencarian tersangka dan tindakan hukum. Kejadian yang sama berulang-ulang. Ada pula suara sumbang mengatakan sebagian besar kejadian itu rekayasa. Begitu parahnya kemanusiaan manusia Indonesia bila setiap peristiwa yang membunuh manusia merupakan rekayasa untuk kepentingan kelompok tertentu atau pihak tertentu...

Solitude Lebaran *2

Image
Aku membayangkan sudah tiba di Jakarta. Jika aku naik bus, kulewati kota-kota, desa-desa, hutan belantara, lahan kering, jurang terjal, dan mampir tiga kali di rumah makan. Kemudian tertahan lama di pelabuhan. Arus balik yang memacetkan.  Ribuan kendaraan antri kembali ke Jakarta. Perantau lama meneruskan perjuangan. Pendatang baru berharap perubahan. Aku membayangkan sudah tiba di Jakarta. Jikalau aku naik pesawat, menenteng tas berlagak orang metropolitan, padahal ‘jemau Manna’. Ketika tiba di Bandara Fatmawati, lebih ramai para pengantar daripada yang pergi. Lalu aku duduk di ruang tunggu. Menunggu keberangkatan pesawat bak menanti jodoh, selalu tertunda atau menunda.  Aku membayangkan sudah berada di Jakarta. Setelah peluk emak dan ayah melepas kepergianku dengan mata bermutiara. “Nak, ke mana pun cita-cita hidup kau renggut, kita bakal bertemu” kira-kira begitulah isyarat mata mereka berkata. Aku membayangkan sudah berada di Jakarta. Setelah menapak kota masa...

Solitude Lebaran *1

Image
Aku membayangkan sudah berada di rumah. Tatkala Jakarta masih tak lagi ramah untuk disebut sebagai kota warga. Aku membayangkan sudah berada di rumah. Setelah orang-orang berpuluh jam menuju kampung halaman, aku sudah tiba duluan. Jauhnya perjalanan mereka terhapus dengan semangat rindu tempat kenangan menginjak kampung halaman. Aku membayangkan sudah berada di rumah. Tiba pada waktu malam. Sebentar aku terdiam di depan halaman. Melihat pintu rumah tertutup rapat. Aku membayangkan emak dan ayah masih di masjid sedang i’tikaf. Aku membayangkan sudah berada di rumah. Mencium tangan emak dan ayah. Memeluk mereka yang sudah tua. Aku menahan air mata.  Menangis di dalam jiwa. Merasa bersalah, belum membuat mereka bahagia. Aku membayangkan sudah di rumah.  Menjabat erat kakakku Ina Kirana. Raut wajahnya yang juga menua. Sudah lama ia berjuang sendiri karena suaminya masih sakit tak berdaya.  Aku membayangkan sudah berada di rumah. Pagi hari kami sekeluarga...

Kang Moeslim yang Tak Biasa

Image
“Kang Thowil dan Siti Marginal” sudah putus asa mencari pemimpinnya. Jika   acuannya adalah survei yang gegap gempita di media, apakah responden yang hanya ribuan itu cukup sebagai representasi suara rakyat tentang sosok kepemimpinan yang dapat merubah keadaan? Kabar paling menyedihkan adalah kabar tentang kepergian. Kepergian yang tak akan ada lagi pertemuan. Kepergian orang yang pernah dekat, bahkan sangat dekat. Apalagi kedekatan itu menginspriasikan banyak hal. Ya. Kepergianmu, Kang. Dalam setiap diskusi, buah pikiranmu seringkali menyentak kesadaran pikir dan hati. Tak jarang pula sering bikin orang geli.  Kader-kadermu tak hanya di Muhammadiyah. Di kalangan Nahdlatul Ulama, aktivis gerakan, politisi, dan akademisi yang berada di tanah air maupun masih studi di luar negeri. Sosokmu yang sederhana, tapi punya pemikiran yang luar biasa. Cendekiawan Muhammadiyah yang lincah. Memiliki pergaulan luas di mana-mana, dari elite hingga rakyat biasa. Tak heran, selain...

David Krisna Alka Miris Pancasila Dikebiri

Image
Rakyat Merdeka, Jum'at, 01 Juni 2012 , 20:34:00 WIB Laporan: Zulhidayat Siregar RMOL. Semua rakyat Indonesia paham sejak awal bahwa Negara Indonesia bisa bertahan sampai saat ini karena ada Pancasila, fondasi bangsa yang menjadi perekat dan platform bersama di antara masyarakat yang majemuk. Tapi, pertanyaannya, sekarang dan masa depan, apakah republik ini bisa bertahan jika tanpa ada Pancasila dan instrumen-instrumen lain yang mendukungnya. "Jika tidak bisa bertahan, maka jangan tinggalkan nilai-nilai Pancasila dalam seluruh ruang kehidupan kita sebagai warga negara yang sah di negara ini," jelas peneliti Populis Institute David Krisna Alka dalam diskusi Pancasila Abad-21 yang digelar Populis Institute di Galery Cafe-Taman Ismail Marzuki Jalan Cikini Raya, Jakarta Pusat (Jumat, 1/6). Hadir dalam diskusi tersebut sebagai pembicara, Wakil Ketua MPR Hadjriyanto Y. Tohari; anggota Komisi II DPR dari PDI Perjuangan Budiman Sudjatmiko; kandidat Doktor Universitas Sorbonne...

Kang Moeslim dan Tenda Kultural

Harian Kompas, Senin 9 Juli 2012 Indonesia kembali kehilangan tokoh terbaiknya. Cendekiawan Muhammadiyah, Moeslim Abdurrahman, menyusul kepergian sahabatnya, Abdurrahman Wahid. Sebelum wafat, Moeslim Abdurrahman yang akrab disapa Kang Moeslim lebih banyak bergelut dalam ranah budaya. Setelah Kuntowijoyo, memang belum tampak lagi tokoh Muhammadiyah yang aktif mendalami kebudayaan. Muhammadiyah memang telah menghasilkan banyak intelektual dan aktivis kreatif yang mampu menjalankan organisasi Muhammadiyah dalam berbagai bidang, seperti pendidikan, kesehatan, sosial, dan ekonomi. Bagaimana dengan kebudayaan?

Slavoj Zizek - Populism and Democracy

Image
http://www.youtube.com/watch?v=K1U7DRjI63g&feature=related

Usia Tak Usah Disebut Dengan Angka

Image
" Politician thinks of the next election. A statesman, of the next generation" James Freeman Clarke Saat- saat seperti ini. Ketika usia bertambah lagi. Tak perlu kusebut dengan perubahan angka. Cukup aku mengatakan, “Sejarah hidupmu bertambah setahun lagi, Vid. Bagaimana dengan masa depanmu?” Sejarah apa yang telah kucatat setahun ini? Pengalaman baru bergulat dalam ruang politik memberikan pelajaran cukup banyak dalam hidupku. Walaupun beberapa sahabat pernah mengatakan, “Vid, kamu itu tak cocok masuk dalam kancah politik kepartaian, tak punya bakat kamu di sana. Mentalmu itu bukan mental politisi!” Aku menahan kalimat itu di perbatasan alam sadar pikirku.    Tak perlu kusebut nama-nama sahabat yang pernah mengatakan itu. Aku ingin bertanya pada kawan-kawan yang membaca catatan ini, untuk sekarang dan masa depan republik ini, mental seperti apa yang diperlukan seseorang untuk menjadi politisi?